Dongeng Pengantar Tidur

9/21/2014 07:07:00 AM Senja Kemuning 0 Comments





            Hujan turun lebat selepas isya’ , mengantarkan fadil kekamarnya dan menemaninya sampai tidur itulah salah satu jadwal wajib untuk ibunda fadil.

“Fadil jagoan ibu sudahkah berwudhu dan mengosok gigi kah” tanya ibu fadil sembari membenahi selimut fadil.
Fadil hanya mengangukan kepalanya.
“Bagus, pinter jagoan ibu” ujar ibunda fadil, “Oh iya tadi ibu denger fadil tidak mau ikut ya waktu diajak ayah kemasjid waktu asyar tadi” rayu ibunda.
Fadil nampak diam.
“Hlo kenapa fadil tidak mau?cerita sama ibu sini?” ujar ibunda dengan membelai rambut fadil.
“Fadil mau main buk” jawab polos anak berumur enam tahun.
“Fadil masih mau main ya, tapi kalau sudah mendengar adzan fadil harus bergegas pulang mandi dan habis itu berangkat kemasjid sama ayah yah” ujar lembut
Fadil tersenyum kepada ibunya.
“Fadil mau kan nanti masuk surga bersama ayah dan ibu?”
“Mau buk”
“Kalau begitu fadil harus rajin shalat berjamaah ya dimasjid” kata imbuhnya sembari menyalakan obat nyamuk elektrik
J
“Kalau begitu ibu mau bercerita pada fadil
Dahulu kala ada sekelompok domba yang di pelihara oleh seorang saudagar domba itu terdiri dari tujuh ekor dan ada dua ekor anak domba.Suatu ketika sang pemilik itu mengajak domba-domba untuk merumput diladang rumput yang sangat luas ia biarkan domba-domba itu mencari makan sepuasnya” ujar ibunya.
“Terus selanjutnya bagaimana buk?” tanya fadil yang penuh rasa ingin tahu.
Ibu tersenyum kepada fadil.
“Selanjutnya anak-anak domba itu bermain dan mencari makan terlalu jauh sebelumnya anak-anak domba itu sudah diperingatkan oleh ibu domba itu untuk tak bermain jauh-jauh dari padang rumput karena jika terlalu jauh bisa tersesat atau ada harimau yang akan segera menerkamnya”
“Terus bagaimana dengan anak-anak domba itu i..bu” dengan sedikit cadelnya.
“Ya seperti yang ibu domba itu katakan anak-anak domba itu hilang, setelah pemilik domba itu mencarinya kesana kemari ia hanya menemukan satu anak domba yang terluka kakiknya dan satu anak domba lainnya tak ditemukan”
“Lantas apa yang terjadi dengan domba yang satunya ib..u” fadil nampak masih penasaran.
“Anak domba yang satu hilang tak ditemukan kembali”
“Fadil tak mau seperti anak domba itu ibu” kata fadil.
“Iya fadil jangan seperti anak domba itu yah,
Yang tak nurut sama ibu atau ayahnya akhirnya anak domba itu harus hilang selamanya.
Makanya fadil harus nurut sama ayah kalau mau diajak kemasjid fadil harus nurut atau waktu disuruh belajar  dan mengaji fadil juga harus mau biar fadil tidak seperti anak domba itu ya” ujar ibunya sambil memberikan ciuman terhangat dikening jagoan kecilnya.
“Fadil mau minta maaf sama ayah bu” ujar fadil dengan polos
Tubuh tegap yang menompang keluarga segera melangkah menujuh fadil yang nampaknya sejak tadi telah memperhatikan fadil dan ibunya.
“Ayah, fadil mau minta maaf” suara polosnya sambil memegang tangan ayahnya.
“Jagoan ayah harus nurut yah” sambil memeluk fadil.
“Yaudah sekarang fadil bobok ya jangan lupa berdoa dulu ya nak” ujar ibunya.
“Bismikallaahuma Ahyaa wa Bismika Amuut” ujar fadil
“Sekarang jagoan ayah tidur dulu ya,Assalamu’alaaikum” ujar ayahnya melangkah keluar bersama ibunya.



*Terinspirasi dari hujan yang turun
Bakda isya’ didepan masjid miftahussalam 03/01/2014*
           

0 komentar: