Dongeng Pengantar Tidur
Hujan turun lebat selepas isya’ , mengantarkan fadil
kekamarnya dan menemaninya sampai tidur itulah salah satu jadwal wajib untuk
ibunda fadil.
“Fadil jagoan ibu
sudahkah berwudhu dan mengosok gigi kah” tanya ibu fadil sembari membenahi selimut
fadil.
Fadil hanya mengangukan
kepalanya.
“Bagus, pinter jagoan
ibu” ujar ibunda fadil, “Oh iya tadi ibu denger fadil tidak mau ikut ya waktu
diajak ayah kemasjid waktu asyar tadi” rayu ibunda.
Fadil nampak diam.
“Hlo kenapa fadil tidak
mau?cerita sama ibu sini?” ujar ibunda dengan membelai rambut fadil.
“Fadil mau main buk”
jawab polos anak berumur enam tahun.
“Fadil masih mau main
ya, tapi kalau sudah mendengar adzan fadil harus bergegas pulang mandi dan
habis itu berangkat kemasjid sama ayah yah” ujar lembut
Fadil tersenyum kepada
ibunya.
“Fadil mau kan nanti
masuk surga bersama ayah dan ibu?”
“Mau buk”
“Kalau begitu fadil harus rajin shalat berjamaah ya dimasjid” kata imbuhnya sembari menyalakan obat nyamuk elektrik J
“Kalau begitu fadil harus rajin shalat berjamaah ya dimasjid” kata imbuhnya sembari menyalakan obat nyamuk elektrik J
“Kalau begitu ibu mau
bercerita pada fadil
Dahulu kala ada sekelompok
domba yang di pelihara oleh seorang saudagar domba itu terdiri dari tujuh ekor
dan ada dua ekor anak domba.Suatu ketika sang pemilik itu mengajak domba-domba untuk
merumput diladang rumput yang sangat luas ia biarkan domba-domba itu mencari
makan sepuasnya” ujar ibunya.
“Terus selanjutnya
bagaimana buk?” tanya fadil yang penuh rasa ingin tahu.
Ibu tersenyum kepada
fadil.
“Selanjutnya anak-anak
domba itu bermain dan mencari makan terlalu jauh sebelumnya anak-anak domba itu
sudah diperingatkan oleh ibu domba itu untuk tak bermain jauh-jauh dari padang
rumput karena jika terlalu jauh bisa tersesat atau ada harimau yang akan segera
menerkamnya”
“Terus bagaimana dengan
anak-anak domba itu i..bu” dengan sedikit cadelnya.
“Ya seperti yang ibu
domba itu katakan anak-anak domba itu hilang, setelah pemilik domba itu
mencarinya kesana kemari ia hanya menemukan satu anak domba yang terluka
kakiknya dan satu anak domba lainnya tak ditemukan”
“Lantas apa yang
terjadi dengan domba yang satunya ib..u” fadil nampak masih penasaran.
“Anak domba yang satu
hilang tak ditemukan kembali”
“Fadil tak mau seperti
anak domba itu ibu” kata fadil.
“Iya fadil jangan
seperti anak domba itu yah,
Yang tak nurut sama ibu
atau ayahnya akhirnya anak domba itu harus hilang selamanya.
Makanya fadil harus
nurut sama ayah kalau mau diajak kemasjid fadil harus nurut atau waktu disuruh
belajar dan mengaji fadil juga harus mau
biar fadil tidak seperti anak domba itu ya” ujar ibunya sambil memberikan ciuman
terhangat dikening jagoan kecilnya.
“Fadil mau minta maaf
sama ayah bu” ujar fadil dengan polos
Tubuh tegap yang
menompang keluarga segera melangkah menujuh fadil yang nampaknya sejak tadi
telah memperhatikan fadil dan ibunya.
“Ayah, fadil mau minta
maaf” suara polosnya sambil memegang tangan ayahnya.
“Jagoan ayah harus
nurut yah” sambil memeluk fadil.
“Yaudah sekarang fadil
bobok ya jangan lupa berdoa dulu ya nak” ujar ibunya.
“Bismikallaahuma Ahyaa wa Bismika Amuut” ujar fadil “Sekarang jagoan ayah tidur dulu ya,Assalamu’alaaikum” ujar ayahnya melangkah keluar bersama ibunya.
*Terinspirasi dari hujan yang turun
Bakda isya’ didepan masjid miftahussalam 03/01/2014*


0 komentar: